::..SELAMAT DATANG TINGGALKAN KOMENTAR YA..::

Eksistensi Musik Barat di Indonesia

14 Maret 2011

|
Seseorang dikatakan lebih maju satu langkah dalam pergaulan jika ia menyenangi musik Barat. Siapa yang bilang? Tidak ada yang mengutarakan pernyataan itu secara langsung. Namun, konsepsi kehidupan telah membangun kesan tersebut. Menciptakan perbedaan selera yang seolah mengedepankan salah satunya.
Hafal lagu-lagu Barat dianggap memiliki gengsi dan nilai plus sendiri bagi setiap orang agar tidak “dikucilkan” dalam pergaulan. Setidaknya, jika ingin dianggap manusia modern, seseorang harus mengenal musik Barat dan menyanyikan liriknya dengan benar meskipun dengan nada fals. Yang penting Baratnya, bukan pembawaannya.
Prestise musik Barat di Indonesia memang menjadi hal yang terbilang wajar dan mendarah daging sejak dulu. Hal ini terbukti dengan padatnya konser-konser musisi luar negeri di Indonesia. Setiap event yang menghadirkan penyanyi luar pasti sukses dan dipenuhi kalangan sosialita. Banyak kaum selebritis berseliweran di acara tersebut.
Menonton konser penyanyi luar merupakan penilaian khusus berdasarkan strata ekonomi dan kualitas pergaulan. Bagaimana lagi?Toh, hal itu telanjur mengalir dalam darah masyarakat Indonesia. Kecintaan terhadap musik Barat pun dibuktikan dengan kunjungan orang-orang Indonesia ke luar negeri untuk menonton konser salah satu penyanyi atau band Barat.
Apa Kabar Musik Lokal?
“Virus” musik Barat memang kian mewabah di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan, balita pun sudah hafal minimal satu lagu Barat. Misalnya, yang sempat tren belakangan adalah lagu Oh Baby yang dinyanyikan Justin Bieber. Lagu JB menyebar sangat cepat laksanavirus pada setiap individu di Indonesia. Bahkan, balita.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana kecintaan masyarakat terhadap musik lokal? Boleh dikatakan, geliat musik lokal nyaris tergerus di tengah musik Barat yang kian berpengaruh. Terlebih, di era modernisasi. Meskipun demikian, eksistensi musik lokal masih tetap diperhitungkan dan memiliki penggemar.
Akan tetapi, musik lokal tampaknya harus rela berbagi eksistensi dengan musik Barat. Musik Barat terlampau menjangkiti ranah kehidupan dan pergaulan masyarakat Indonesia. Selain harus rela berbagi eksistensi, kehadiran musik Barat seharusnya menjadi pemicu musisi lokal untuk berkarya lebih baik dan berkualitas serta orisinil.
Orisinil. Itulah kuncinya. Sebuah karya yang diciptakan sendiri memiliki keistimewaan luar biasa ketika meledak di pasaran. Perasaan bangga pun akan muncul dengan sendirinya, di samping berbagai penghargaa trofi dan materi.
Musik Lu, Gaya Lu!
“Musik lu, gaya lu!” Ya. Itulah pernyataan yang kerap dijadikan patokan seseorang untuk menyenangi musik Barat. Kesan gaul yang begitu melekat pada musik Barat membuat seseorang memilih jenis musik tersebut sebagai kegemarannya. Yang tadinya kurang begitu suka atau bahkan tidak suka, mencoba suka demi pergaulan.
Pada dasarnya, kepribadian seseorang dapat tecermin dari apa yang dipilihnya. Dengan kata lain, apa yang Anda pilih, itulah gambaran kepribadian Anda. Oleh sebab itu, seseorang harus berlaku jujur dalam memilih sesuatu. Selera tidak bisa dibentuk dan dipaksakan. Selera lahir dari dalam diri seseorang secara alami.
Dengan demikian, tetaplah jujur menentukan pilihan. Termasuk, dalam hal musik. Musik Barat maupun musik lokal sama saja. Perbedaannya hanya terletak dalam hal bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kita memang tidak bisa membendung masuknya musik Barat ke Indonesia. Jadi, nikmati saja selama tidak membuat kita melupakan budaya!

0 komentar:

Posting Komentar


  • Web
  • Pecinta Musik
  • Followers

    Jam

    You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

    Live Traffic Feed

    free counters

    Tukeran Link

    Killjoy